Obat Herbal Diabetes

penurun kolesterol

Obat Kuat

Obat Herbal Asam urat

Belajar EFT

Leukemia (Kanker Darah)

Dalam perkembangan penyakit kanker, ada dua jenis kanker yang mesti dicermati secara saksama, yaitu leukemia dan tumor. Leukemia merupakan tipe kanker yang menunjukkan bahwa sel darah putih membelah diri terlalu cepat. Terkait itu, kita mengetahui bahwa semua sel darah dibentuk di tulang sumsum. Leukemia menyebabkan tulang sumsum tersumbat oleh sel darah putih, sehingga tidak ada ruang bagi sel sehat untuk tumbuh. Inilah yang menyebabkan penderita leukemia merasakan sakit.


Sesungguhnya, tumor adalah kanker yang tumbuh menjadi gumpalan. Tumor dapat tumbuh di bagian mana pun pada tubuh. Jika sel yang tumbuh terlalu cepat di dalam tulang, maka bisa menjadi tumor tangan atau kaki. Bila letaknya di kepala, maka akan menjadi tumor otak. Tumor mampu merusak bagian tubuh sehat yang berada di sekitarnya, dan inilah yang menyebabkan penderita tumor merasakan sakit.


Leukemia adalah jenis penyakit kanker yang menyerang sel-sel darah putih yang diproduksi oleh sumsum tulang .(bone marrow). Sumsum tulang dalam tubuh memproduksi tiga tipe sel darah. Di antaranya ialah sel darah putih (berfungsi sebagai daya tahan tubuh untuk melawan infeksi), sel darah merah (ber­fungsi membawa oksigen ke dalam tubuh), dan pla­telet (bagian kecil sel darah yang membantu proses pembekuan darah).


Pada umumnya, leukemia muncul pada diri se-seorang sejak kecil. Tanpa diketahui dengan jelas | penyebabnya, sumsum tulang telah memproduksi sel darah putih yang berkembang tidak normal atau abnormal. Jika normal, sel darah putih akan mere-produksi ulang bila tubuh memerlukannya, atau ada tempat bagi sel darah tersebut. Tubuh seseorang akan memberikan tanda/signal secara teratur, yang menunjukkan waktu sel darah bereproduksi kembali.


Pada kasus leukemia, sel darah putih tidak me-respons tanda/signal yang diberikan. Akibatnya, terjadilah produksi yang berlebihan dan tidak terkontrol (abnormal), yang akan keluar dari sumsum tulang, serta ditemukan dalam darah perifer atau darah tepi. Jumlah sel darah putih abnormal yang berlebihan dapat mengganggu fungsi normal sel lainnya. Sese­orang dengan kondisi seperti ini akan menunjukkan beberapa gejala, misalnya mudah terkena penyakit infeksi, anemia, dan pendarahan.


Di antara jenis penyakit leukemia ialah leukemia akut. Leukemia ini ditandai dengan suatu perjalanan penyakit yang sangat cepat, mematikan, dan mem-buruk. Apabila kondisi tersebut tidak segera diobati, maka bisa menyebabkan kematian dalam hitungan minggu atau hari. Selain leukemia akut, ada juga leukemia kronis. Leukemia itu memiliki perjalanan penyakit yang tidak begitu cepat, sehingga seseorang memiliki harapan hidup yang lebih lama atau lebih dari setahun.


Leukemia dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis sel. Jika saat pemeriksaan diketahui bahwa leukemia mempengaruhi limfosit atau sel linafoid, maka disebut leukemia limfositik. Sedangkan leukemia yang mem-pengaruhi sel myeloid, seperti neutrofil, basofil, dan eosinofil, dinamakan leukemia mielositik.


Berdasarkan klasifikasi tersebut, maka leukemia dibedakan menjadi empat tipe. Pertama, leukemia limfositik akut (LLA) yang paling sering menyerang anak-anak. Penyakit ini juga dialami oleh orang de­wasa, terutama yang telah berumur 65 tahun atau lebih. Kedua, leukemia mielositik akut (LMA). Leukemia jenis itu lebih sering terjadi pada orang dewasa ketimbang anak-anak. Dahulu, tipe tersebut dinamakan leukemia nonlimfositik akut.


Ketiga, leukemia limfositik kronis (LLK). Leukemia itu diderita oleh orang dewasa yang berumur lebih dari 55 tahun. Terkadang, leukemia ini menyerang remaja, dan sangat jarang ditemui pada anak-anak. Keempat, leukemia mielositik kronis (LMK) yang sering dialami oleh orang dewasa, dan jarang menyerang anak-anak.


Hingga sekarang, penyebab penyakit leukemia belum diketahui secara pasti. Meskipun demikian, diketahui bahwa ada empat faktor yang diduga mem-pengaruhi frekuensi terjadinya leukemia. Pertama, radiasi. Hasil riset menerangkan bahwa para pegawai radiologi sering menderita leukemia. Leukemia ditemukan pada korban hidup dalam kejadian bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang.


Kedua, leukemogenik. Beberapa zat kimia diduga dapat mempengaruhi frekuensi leukemia, misalnya racun lingkungan (bencana), bahan kimia industri (misalnya insektisida), serta obat-obatan yang digunakan untuk kemoterapi. Ketiga, herediter. Penderita down syndrome memiliki insidensi leukemia akut dua puluh kali lebih besar ketimbang orang normal. Keem­pat, virus. Beberapa jenis virus bis a menyebabkan leu­kemia, seperti retrovirus dan virus leukemia feline.


Gejala-gejala leukemia pada seseorang mungkin berbeda dengan orang lainnya. Walaupun begitu, ada beberapa gejala umum yang dapat ditemui pada banyak orang. Pertama, anemia. Penderita mudah lelah, pucat, dan bernapas cepat. Pada penderita anemia, jumlah sel darah merah di bawah normal, sehingga menyebabkan oksigen dalam tubuh berkurang. Akibatnya, penderita akan bernapas cepat sebagai kompensasi pemenuhan kekurangan oksigen dalam tubuh.


Kedua, pendarahan. Ketika platelet (sel pembeku darah) tidak diproduksi secara wajar lantaran didominasi oleh sel darah putih, maka penderita mengalami pendarahan di jaringan kulit, yang ditunjukkan dengan banyaknya jentik merah lebar/kecil di jaringan kulit.


Ketiga, terserang infeksi. Sel darah putih berperan sebagai pelindung daya tahan tubuh, terutama melawan penyakit infeksi. Pada penderita leukemia, sel darah putih yang terbentuk bersifat tidak normal (abnormal), sehingga tidak berfungsi dengan semestinya. Akibatnya, tubuh penderita rentan terhadap infeksi virus/bakteri. Bahkan, iapun menderita demam, keluar cairan putih dari hidung, dan batuk.


Keempat, rasa nyeri pada tulang dan persendian. Rasa nyeri ini dikarenakan sumsum tulang (bone marrow) terdesak oleh sel darah putih. Kelima, rasa nyeri pada perut. Rasa nyeri itu termasuk salah satu indikasi gejala leukemia. Sebenarnya, sel leukemia bisa terkumpul pada organ ginjal, hati, dan empedu, yang menyebabkan pembesaran pada organ-organ tubuh tersebut, sehingga menimbulkan nyeri. Rasa nyeri ini dapat menghilangkan selera makan.


Keenam, pembengkakan kelenjar limfa. Penderita berkemungkinan besar mengalami pembengkakan pada kelenjar limfa, baik di bawah lengan, leher, dada, dan lain sebagainya. Kelenjar limfa bertugas menyaring darah. Sementara itu, sel leukemia terkumpul di sana, sehingga menyebabkan pembengkakan. Ketujuh, kesulitan bernapas (dysnea). Terkadang, penderita menampakkan gejala kesulitan bernapas dan nyeri dada. Apabila hal ini terjadi, maka ia harus segera mendapatkan pertolongan medis.

Penyakit leukemia bisa didiagnosis dengan beberapa pemeriksaan. Di antaranya ialah biopsi, pemeriksaan darah (complete blood count atau CBC), CT-scan atau CAT-scan, magnetic resonance imaging (MRI), X-ray, ultrasound, dan spinal tap/lumbar puncture.


Leukemia bisa disembuhkan dengan menangani gejala-gejala yang muncul, seperti anemia, pendarahan,dan infeksi. Secara garis besar, penanganan dan pengobatan leukemia dilakukan dengan cara single ataupun gabungan dari beberapa metode, yaitu kemoterapi, terapi radiasi (jarang digunakan), transplantasi bone marrow (sumsum tulang), pemberian obat-obatan tablet dan suntik, serta transfusi sel darah merah atau platelet.


Sistem terapi yang sering digunakan untuk mena­ngani penderita leukemia adalah kombinasi antara kemoterapi dan pemberian obat-obatan yang berfokus pada pemberhentian produksi sel darah putih yang abnormal dalam bone marrow. Terapi berikutnya ialah penanganan terhadap beberapa gejala dan tanda yang telah ditampakkan oleh tubuh penderita dengan monitor yang komprehensif.