Kanker Kolon
Seperti halnya deteksi dini pada kanker mulut rahim dengan menggunakan papsmear atau kanker payudara memakai mamografi, maka terhadap kanker kolon pun bisa dilakukan deteksi dini. Deteksi dini kanker kolon dianjurkan bagi orang yang usianya 50 tahun. Adapun bagi orang yang memiliki riwayat keluarga pernah terkena kanker ovarium, kolon, dan paru-paru, maka disarankan agar melakukan deteksi dini sebelum berumur 50 tahun.
Kanker kolon dianggap sebagai penyakit yang perjalanannya lambat. Oleh karena itu, masyarakat dianjurkan agar melakukan deteksi dini melalui pemeriksaan darah dalam tinja dan kolonoskopi. Sebaiknya, deteksi dini dilakukan sejak usia 40 tahun bagi orang yang memiliki riwayat ketiga jenis kanker tersebut dalam keluarganya. Apalagi bagi orang yang telah mengalami gejala-gejala, seperti pendarahan saat buang air besar dan tertutupnya jalan usus atau penyumbatan. Maka, deteksi dini sangatlah disarankan. Beberapa prosedur deteksi dini kanker kolon melalui tahapan berikut:
Pertama, pemeriksaan colok dubur oleh dokter bila seseorang mencapai usia 50 tahun. Pemeriksaan ini bertujuan mengetahui adanya kelainan pada prostat. Kedua, setelah pemeriksaan tersebut, dilakukan pemeriksaan laboratorium, yaitu pemeriksaan darah samar (occult blood) secara berkala untuk mengetahui ada atau tidaknya darah dalam tinja. Kemudian, dilakukan pemeriksaan secara visual dengan endoskopi di kolon atau kolonoskopi. Pemeriksaan kolonoskopi atau teropong usus dianjurkan segera dilakukan bagi orang yang mencapai usia 50 tahun.
Ketiga, melakukan pemeriksaan kolonoskopi yang relatif aman, tetapi tidak menyenangkan. Kolonoskopi bertujuan menemukan kanker kolorektal dan mengambil jaringan yang akan diperiksa di laboratorium patologi. Pada pemeriksaan ini diperlukan alat endoskopi fiberoptik yang digunakan untuk pemeriksaan kolonoskopi. Alat tersebut bisa melihat kondisi di sepanjang usus besar, memotretnya, lalu melakukan biopsi bila tumor ditemukan.
Keempat, melakukan pemeriksaan enema barium guna menunjang diagnosis kanker kolon. Pada pemeriksaan itu, bahan cair barium dimasukkan ke usus besar melalui dubur, kemudian siluet bayangannya dipotret dengan alat rontgen. Jika ditemukan tumor dalam pemeriksaan ini, maka dilanjutkan dengan pemeriksaan kolonoskopi.
Kelima, menggunakan kolonoskopi untuk mendeteksi kelainan berdasarkan gambaran makroskopik. Bila tidak ada penonjolan atau ulkus, pengamatan kolonoskopi ditujukan pada kelainan warna, bentuk permukaan, dan gambaran pembuluh darah. Dengan adanya deteksi dini semacam ini, maka diharapkan kanker kolon dapat segera ditangani atau diterapi. Beberapa terapi, seperti kemoterapi dan radiasi, bisa dilakukan untuk mengatasi kanker kolon.









