Obat Herbal Diabetes

penurun kolesterol

Obat Kuat

Obat Herbal Asam urat

Belajar EFT

Kanker Rongga Mulut

Penyakit-penyakit jaringan lunak rongga mulut termasuk salah satu bahan kajian para ahli, terutama dengan meningkatnya kasus kematian yang dikarenakan kanker rongga mulut. Kanker ini banyak menyerang penduduk di negara berkembang. Kanker tersebut banyak menimpa laki-laki.


Keabnormalan dan kematian yang disebabkan oleh kanker rongga mulut dinilai masih tinggi. Hal ini dikarenakan kurangnya deteksi dini dan identifikasi terhadap kelompok berisiko tinggi, serta kegagalan dalam mengontrol kesehatan mulut. Untuk mengatasi masalah itu, WHO telah membuat petunjuk untuk mengendalikan kanker mulut, terutama bagi negara-negara yang sedang berkembang. Pengendalian ter­sebut berdasarkan tindakan pencegahan primer, yang prinsip utamanya ialah mengurangi dan menjauhkan diri dari bahan-bahan yang bersifat karsinogen.


Selain pencegahan primer, WHO juga menerap-kan pendekatan kedua atau pencegahan sekunder, yaitu mendeteksi kanker rongga mulut sejak dini. Pada umumnya, untuk mendeteksinya, dokter akan melakukan anamnese dan pemeriksaan klinis, yang diperkuat oleh pemeriksaan tambahan di laboratorium.


Faktor-faktor penyebab kanker rongga mulut dibedakan menjadi tiga. Pertama, faktor lokal yang meliputi rongga mulut yang kotor, iritasi kronis dari restorasi gigi-gigi karies/akar gigi, pemakaian gigi palsu, dan lain sebagainya. Kedua, faktor luar yang berupa zat karsinogen kimia dalam rokok. Ketiga, faktor usia, jenis kelamin, nutrisi imunologi, dan genetik.


Sebagian besar kanker rongga mulut baru diketahui saat stadium lanjut, yang biasanya sudah ada sejak berbulan-bulan yang lalu, atau bahkan lebih lama daripada itu. Akibatnya, prognosa dari kanker rongga mulut relatif buruk. Kondisi ini dikarenakan diagnosis dan perawatan yang terlambat.


Faktor yang dapat menimbulkan keterlambatan tersebut antara lain perkembangan kanker pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan keluhan. Biasanya, orang-orang yang sudah tua dan lemah tidak ingin repot memeriksakan diri ke dokter. Selain itu, pendidikan masyarakat yang masih rendah juga turut mendukung keterlambatan diagnosis kanker.


Beragam faktor yang lain, yaitu dokter gigi kurang teliti saat melakukan pemeriksaan rutin rongga mulut, tidak diketahui tanda-tanda awal keganasan dalam mulut, atau adanya keraguan lantaran tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai gambaran klinis keganasan mulut, sehingga terlambat dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.


Pada tingkat pemeriksaan klinis, dokter gigi boleh menggunakan sikat. Pada sejumlah penelitian, diketahui bahwa biopsi dengan cara disikat menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan dalam memeriksa area rongga mulut.


Secara spesifik, ada sejumlah tanda yang meng-indikasikan kanker rongga mulut. Di antaranya ialah bercak putih dan bersisik, bintik pigmen yang tiba-tiba ukurannya membesar, gusi bengkak dan berdarah, gigi yang tanggal secara tiba-tiba tanpa riwayat trauma pada rahang, mati rasa pada rongga mulut, rasa sakit sewaktu menggerakkan rahang, adanya gumpalan pada leher, wajah, atau jaringan mulut, serta luka pencabutan gigi yang tidak kunjung sembuh.


Bila terdapat salah satu atau beberapa tanda terse-but, dokter gigi harus segera melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mendeteksi kanker rongga mulut pada tahap awal. Sesungguhnya, ada beragam pencegahan sekaligus pengobatan yang bisa dilakukan untuk menangani kanker rongga mulut.


Pertama, menghindari cahaya matahari dapat mengurangi risiko terjadinya kanker bibir. Kedua, menghindari alkohol dan tembakau yang berlebihan bisa mencegah sebagian besar kanker mulut. Ketiga, memperhalus tepian gigi yang patah atau menambal-nya. Keempat, vitamin antioksidan (vitamin C dan E, serta betakaroten) mampu memberikan perlindungan tambahan.


Apabila cahaya matahari mengenai daerah bibir yang luas dan menyebabkan kerusakan, maka bisa dilakukan "pencukuran bibir". Pada teknik ini, seluruh lapisan terluar bibir diangkat, baik melalui pembedahan maupun dengan laser, untuk mencegah berkembangnya kanker. Keberhasilan pengobatan kanker mulut dan bibir sangat tergantung pada seberapa jauh kanker telah berkembang. Kanker mulut jarang menyebar ke daerah tubuh yang jauh, tetapi cenderung menyusup ke dalam kepala dan leher. Jika seluruh kanker dan jaringan normal di sekitar kanker diangkat sebelum kanker menyebar ke kelenjar getah bening, maka angka kesembuhannya tinggi. Sebaliknya, bila kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening, ja­rang terjadi penyembuhan.


Selain mengangkat kanker dalam mulut, pembedahan juga mengangkat kelenjar getah bening di bawah dan belakang rahang, serta di sepanjang leher. Penderita kanker mulut atau tenggorokan bisa men-jalani terapi penyinaran dan pembedahan, ataupun hanya penyinaran.


Terapi penyinaran sering kali merusak kelenjar ludah dan menyebabkan mulut penderita menjadi kering, yang dapat memicu timbulnya aktivasi (karies gigi) dan masalah gigi lainnya. Tulang rahang yang terkena penyinaran tidak akan sembuh dengan baik. Oleh karena itu, hendaknya masalah gigi diobati sebelum dilakukan terapi penyinaran.


Sebaiknya, gigi yang diduga bakal menimbul-kan masalah dicabut. Kebersihan gigi dan mulut sangat penting bagi penderita yang telah menjalani terapi penyinaran untuk mengatasi kanker mulut. Keuntungan yang diperoleh dari kemoterapi sangat terbatas. Dan, terapi utamanya adalah pembedahan dan penyinaran.